Tuesday, August 18, 2009

Penggunaan Plastik Kresek: Antara Peringatan dan Ingatan

-ini adalah tulisan singkat yang saya buat untuk Newsletter Yayasan Lantan Bentala edisi-64 mengenai penggunaan plastik kresek. hanya tulisan yang sangat singkat, namun dapat menjadi bahan renungan. happy reading :)


Sejak dikeluarkannya peringatan resmi dari BPOM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia) mengenai bahaya plastik kresek (terutama yang berwarna hitam) pada tanggal 14 Juli 2009 lalu, banyak diantara para pemerhati lingkungan yang bertanya-tanya mengenai tanggapan masyarakat sehubungan dengan isu tersebut. Apakah masyarakat sudah tahu akan hal ini? Dan apabila mereka tahu, adakah tindak lanjut yang sekiranya signifikan dalam menanggapi isu ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit banyak terjawab ketika saya mencoba mencari tahu lebih lanjut melalui beberapa artikel.

Berdasarkan pada artikel yang dimuat pada Suara Karya online yang bertajuk ‘Pedagang tak Peduli Soal Bahaya Kresek’ tertanggal 17 Juli 2009 lalu, dapat diketahui bahwa pedagang nampaknya tidak tahu menahu mengenai bahaya dari plastik kresek. Hal ini diakui oleh Tarno, seorang pedagang gorengan di daerah Ciputat, Tangerang, yang mengaku telah 8 tahun membungkus dagangannya dengan menggunakan plastik kresek. Penggunaan plastik kresek tersebut didorong oleh harga plastik kresek yang lebih murah dibandingkan bahan pembungkus lainnya seperti kertas. Alasan penggunaan plastik kresek yang saya temukan selain karena harganya yang murah adalah karena kemampuan plastik kresek (warna hitam) dalam menutupi barang belanjaan konsumen (Migas Online, Maret 2009).

Selain melalui sumber-sumber di atas, beberapa kerabat saya yang saya coba tanyai mengaku sudah tahu bahwa plastik kresek (khusunya yang berwarna hitam) itu berbahaya, namun selanjutnya ketika saya menanyakan mengenai peringatan dari BPOM, semuanya menjawab tidak tahu menahu mengenai hal tersebut, bahkan banyak diantaranya yang justru menanyakan pertanyaan lebih lanjut seperti, “Sebenarnya plastik kresek berbahayanya ketika dipakai unt apa sih?”, dan selanjutnya, kebanyakan dari mereka masih menggunakan plastik kresek walaupun sudah ada upaya dalam mengurangi penggunaannya.

Sehubungan dengan itu, saya ingin mencoba menggarisbawahi pernyataan dari Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib, sendiri yang dimuat oleh Antara News tertanggal 14 Juli 2009 lalu, “..hingga kini belum ada pengaduan atau keluhan mengenai gangguan kesehatan akibat penggunaan kantung "kresek" sebagai wadah makanan. Tapi lebih baik berhati-hati” (Antara News, Juli 2009). Melalui pernyataan tersebut, dapat dilihat pula bahwa sehubungan dengan isu penggunaan plastik kresek, belum ada benang merah yang menghubungkan antara peringatan dengan ‘ingatan’ publik, yang dalam hal ini ditandai dengan penggunaan plastik kresek yang sampai saat ini tidak merugikan masyarakat dalam ranah kesehatan.

Berbeda dengan kasus-kasus serupa seperti tahu berformalin dan kosmetik bermercury. Walaupun dalam ingatan publik, keduanya sama-sama belum memperlihatkan dampak yang signifikan dalam ranah kesehatan, kasus-kasus tersebut berhasil meluas dan menciptakan perspektif baru di kalangan masyarakat yang pada akhirnya menghasilkan perubahan gaya hidup. Dalam kasus-kasus tersebut, lembaga-lembaga resmi pemerintahan berani mengambil tindakan yang juga bekerjasama dengan media dalam mengkomunikasikan isu-isu tersebut. Hal itu pulalah, yang saya rasa diperlukan dalam menanggapi isu penggunaan plastik kresek.

Akhir kata, saya berharap bahwa peringatan yang disampaikan oleh BPOM sehubungan dengan bahaya plastik kresek ini benar-benar dapat menyentuh ingatan publik, yang pada akhirnya dapat menghasilkan suatu perubahan, yaitu masyarakat dengan gaya hidup yang lebih sehat; yang tahu bahaya plastik kresek dan mengurangi penggunaannya. 


(Chikita Rosemarie, Agt-15-2009)

Friday, July 31, 2009

Lagu


Ingatkah kita, pada malam itu
Di tengah keremangan malam, ramainya hiruk pikuk kota
Terduduk dalam keheningan, hanya berdua..



Lagu itu mengalun,



Membahana, membangkitkan rasa yang begitu menggebu-gebu
dalam menanggapi gelapnya takdir yang segelap pakaian yang kau kenakan malam itu.

Kau sedikit bertanya mengenai selera musikku yang agak berbeda,
berlawanan dengan usia kita yang terhitung belum seberapa
sekaligus berusaha menyesuaikan selera telinga yang belum terbiasa dengan nada-nada melankolia

Kita berbincang, bak kawan lama
Kepalaku tertunduk pada bahumu,
menghapus keberadaan jarak yang sesungguhnya tak seberapa

Ya, itu kita.
Kita pada malam yang berbeda,
kala yang berbeda pula..

Jauh berbeda dengan sekarang,
kala kini.



Lagu yang sama masih mengalun,



namun irama yang kita buat berbeda..

Air mata yang sama masih jatuh pada tempat yang sama
walau dalam kiasan pemaknaan yang berbeda.



Lagu itu masih mengalun,



aku pun masih meresapi bait tiap baitnya dengan seksama.

ya, api itu..
yang masih menyala di depan kita,
namun dalam situasi yang berbeda.

dulu kita berdua ada di dalamnya,

namun kali ini tidak begitu adanya..

aku ada di dalam sana,

dan kau menolak untuk kembali berada di sana.

Tempat yang sama,

api yang sama..

entah mengecil, entah membesar..

kau sudah tidak ada di sana..

aku yang di sana..

dan kau tidak..

aku,

yang terbakar.

dan kau,

yang mencium bau hangusnya..



dan lagu itu pun masih mengalun..




(Chikita Rosemarie, Jul-31-2009)



*thx to 'the voice', Chaka Khan*


Monday, June 29, 2009

Me and My Subjective Meaning


Salah satu frase yang sering saya ucapkan, baik dalam ranah akademis maupun kasual, adalah 'pemaknaan subyektif' (subjective meaning). Tidak hanya saya ucapkan, interpretasi serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi isu yang kerap kali saya pertanyakan. Mungkin hal ini salah satunya diakibatkan oleh kekaguman saya terhadap pemikiran Weber. Namun, di luar itu semua, kadangkala saya pun menyadari betapa pemahaman minimal saya mengenai konsep pemaknaan subyektif ini telah sedikit banyak merubah sudut pandang saya dalam menanggapi hidup. 

Saya kesal, dan ingin marah rasanya ketika saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan sehubungan dengan interaksi sosial saya, baik dengan individu maupun dengan kelompok lain. Bahkan ada kalanya saya merasa sangat amat perlu menggeleng-gelengkan kepala dengan cukup keras untuk membuat konsep tersebut keluar dari kepala saya sambil mengatakan, "HELLO!! I just want to be an 'Ego'!!", sembari memaki pengetahuan saya yang tentunya terbilang masih amat sangat sedikit mengenai konsep tersebut. 

Saya sebenarnya yakin, dengan ada tidaknya empirisisme terhadap konsep tersebut, tiap-tiap individu pastinya secara alamiah menyadari adanya keberadaan pemaknaan subyektif serta keberadaan bentukan kausal dari hal itu. Namun, yang sangat saya sayangkan adalah keberadaan konsep tersebut di dalam kepala saya mempertegas realitanya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan, saya merasa 'dipaksa' untuk menjadi dewasa, 'dipaksa' untuk berpikir secara mendalam ketika saya hanya ingin menjadi seorang 'ego', di mana secara sederhana diartikan sebagai rasionalitas kesadaran diri saya sendiri. Saya hanya ingin berpikir simpel, self-centered, tanpa harus berpikir keras menganalisa mengenai jalan pemikiran individu-individu lain beserta bentukan kausalnya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, dan saya harus hidup sembari dihantui konsep tersebut sepanjang sisa hidup saya.

Dari hasil gerundelan saya di atas, tentunya tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa konsep 'pemaknaan subyektif' telah sedikit banyak mengubah hidup saya. Bukan saya yang dapat menilai apakah perubahan itu berjalan lebih ke arah positif atau negatif. Namun, satu hal yang pasti, yang sebenarnya sedikit banyak membuat saya ingin tertawa satir, adalah bahwa segala hal yang barusan saya tulis dan keluhkan sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah pemaknaan subyektif saya mengenai konsep 'pemaknaan subyektif' itu sendiri. 

Ironis?? sekali lagi, bukan saya yang dapat menilai.. :)


(Chikita Rosemarie, June-29-2009)


Monday, June 8, 2009

080609

Aku menatap lurus pada hamparan putih
Seakan berharap mereka kan segera terisi

Aku menghamba pada jernihnya alam bawah sadar manusia yang rapuh
Yang berusaha mewakili lirihnya dengan uraian

Jari-jemariku bergerak,
mereka tanpa mata

Hanya bergerak sebagai suatu bentukan simbolik dari kehampaan lain
yang merupakan proses alamiah satu-dua manusia yang bertemu dalam suatu jalinan waktu

Aku berhenti menatap lurus dan mulai juga menggerakkan kepala
sembari berpikir sekali lagi uraian simbolik ini mengena

Jalan pikiranku terhambat oleh batas ruang interaksi antara dimensi yang berbeda
ruang dan waktu,
serta pemaknaan masing-masing individu mengenai itu

Sekali pula pikiranku hendak menghentikan wacana mengenai pemaknaan
suatu hal yang dipercaya sekaligus dicerca
karena ketidakpastian yang menjadikannya hina 

Aku terbata dalam keheningan
menanyakan kapabilitas diri untuk menunggu

Menunggu jawaban yang enggan kujawab
menunggu kepastian yang enggan kuraih

Lelah rasanya meraih kepastian,
ketika kepastian sendiri hanyalah hampa

Ia dan semua-muanya yang tercipta tak lain dan tak bukan hanya sebentukan nosi yang tak bernyawa
ya, lelah aku mencarinya..

di tengah intensitas pencarian yang kadang terlalu melelahkan

yaitu ketika aku menunggu jawaban itu
jawaban yang belum kudapat

sekuritas yang belum telegalkan,
dan lirih yang kian terpaparkan

Ini bukan narasi, jelas bukan..
hanya suatu uraian abstrak mengenai batas sadar dan tidak

ya, ini hanya simbol, bukan makna..
atau simbol, yang tentunya memiliki makna..

Aku tidak tahu,
karena sekali lagi nampaknya jariku tidak punya mata..


(Chikita Rosemarie, June 8 2009)