Showing posts with label Poems. Show all posts
Showing posts with label Poems. Show all posts

Sunday, September 11, 2011

Fluktuasi

Hari itu cuaca cerah
Dan seketika berubah menjadi mendung
Di dalam dirimu, hatiku berserah
Dan seketika keseharianku berubah menjadi rangkaian kidung

(Chikita Rosemarie, Sept-11-2011)

Sunday, September 4, 2011

3 September 2011


Aku menyajikan hatiku di atas nampan emas
Kusajikan sepenuhnya di atas meja kayu berukir puisi
Bersama sebait melodi yang aku kemas
Untuk mengalun berlatarkan semerbak wangi bunga

Lilin menyala di tengah remang nuansa
Angin bertiup, sepi seakan berharap turut serta
Secercah senyum tak lupa aku bawa
Berhias bersama ayunan langkah tegap nan jumawa

Aku menyajikan hatiku di atas nampan emas
Berharap kau untuk duduk saja
Diam dan menerima tanpa perlu bertanya
Sembari tersenyum tanda bahagia

Namun kau sendiri tahu bukan begitu adanya..

Hatiku tidak tersaji di atas nampan emas
Melodi, puisi hanya gubahan imajinasi
Lilin menyala redup, di tengah hembusan angin
dan wangi bunga yang tak kian menyapa

Namun tetap aku tersenyum
Bersama dengan pesan-pesan singkat
yang menjadi nampan emas untuk menghantarkan hatiku
Menuju tempat peristirahatanmu

Berharap engkau turut tersenyum
dan memahami hakekat nampan emas
yang merupakan bagian dari hatiku
yang tersaji hanya untukmu

Sekali lagi,
Aku menyajikan hatiku di atas nampan emas
Perihal nampan, hanya dirimu yang dapat menilainya
Silakan, engkau mau terima ataupun tidak..


(Chikita Rosemarie, Sept-4-2011)


Lucu


Lucu adalah ketika,
aku menyadari besarnya signifikansi kehadiranmu dalam hari-hariku.

Lucu adalah ketika,
kopi tidak terasa pahit, keju tidak terasa asin, dan cokelat tidak terasa manis,
ketika kau berada jauh dari jangkauanku..

Lucu ketika,
baik kopi, keju, maupun cokelat kehilangan rasa dari kehadiranmu

Rasa yang ikut menghilang bersama dengan kepergianmu,
yang membuat hidupku yang lucu menjadi semakin lucu..

Lucu karena alih-alih melupakanmu,
aku justru semakin tidak dapat melepaskan diri dari bayangmu..

Lucu,

dan kopi, keju, beserta cokelat adalah saksinya..


(Chikita Rosemarie, Sept-4-2011)




September

Kerinduanku padamu semakin menjadi-jadi
Bukan salahmu aku rasa..

Yah, sebagian salahmu
Karena kamu tak pernah gagal,
walau mungkin tak pernah mencoba,
Untuk memikat hati kecil yang penuh kekaguman akan dirimu.

Sebagian mungkin salahku,
Sebagian besar, aku rasa..

Salahku,
Yang tidak tahan pada keterbatasan akses dalam meraihmu..


(Chikita Rosemarie, Sept-4-2011)


Monday, February 14, 2011

130211 (11.30 pm)

please do wait to open the box for real :p


Seorang penyair pernah berkata
Bahwa ia ingin mencintai dengan sederhana
Sama halnya dengan inginku
Yang pabila digambarkan, akan nampak demikian..

Aku ingin mencintaimu,
Seperti petani mencintai hujan di musim kemarau

Aku ingin mencintaimu,
Seperti koki mencintai buah ceri yang ia letakkan di atas krim

Aku ingin mencintaimu,
Seperti penulis mencintai tanda baca terakhir yg ia bubuhkan pada karyanya

Aku ingin mencintaimu,
Seperti filsuf mencintai ide yang membuatnya bangkit kursi dan berteriak kegirangan

Aku ingin mencintaimu,
Dengan dan tanpa berpikir
Karena toh, rasa itu memang nyata ada
Berpikir maupun tidak, ia adalah realita

Aku pun menulis kata" ini,
Dengan dan tanpa berpikir
Sesederhana itu,
Sesuai dengan cinta yang adalah cinta
Yang detik demi detik kurasakan
Dengan sederhana maupun tidak
Kepadamu,
Hanya untukmu,
Seorang,
Kekasihku..



*Happy Valentine, Honey..*
:)




Your Future Wife,
-Chikita Rosemarie-





Saturday, September 25, 2010

Untuk Y.K. II


02.17 am

Sekali lagi aku duduk menatap hamparan putih ini. Terpaku begitu saja. Hanya karena alasan klise "aku tidak bisa tidur". Namun ketahuilah, seperti yang pernah aku katakan di malam kita berargumen panas kemarin. Aku tidak bisa hidup tanpa menulis. Apapun itu yang aku tulis. Mau bait-bait puisi, celoteh acak, maupun sesurat omong kosong yang secara tidak langsung aku tujukan kepadamu.

Namun aku tidak benar-benar sendirian malam ini. di sebelahku terdampar segelas Jagermeifer yang diam-diam aku bawa dari ruang makan selepas aku pulang dari berpergian, melepas penat bersama teman-temanku. 

Ya, aku memang meminum beberapa gelas minuman dengan kadar alkohol tertentu sepanjang hari ini. Tadi siang, Sopi, semacam minuman hasil fermentasi beras khas daerah Indonesia Timur yang dibawa teman kampusku, dan tadi malam, segelas Cosmopolitan, segar dan beraroma jeruk, selayaknya minuman yang selalu diasosiasikan dengan kaum perempuan itu. 

Selanjutnya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, segelas Jagermeifer, lengkap dengan batu-batu es yang sebenarnya berat jenisnya melebihi cairan beralkohol tersebut. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan asumsi-asumsi seperti, "Oh, dia terlalu banyak minum hari ini." karena aku yakin bahwa kadar H2O masih melebihi kadar alkohol hasil fermentasi yang memasuki tubuhku sepanjang hari ini.

Ah Sayang,
apa boleh dikata, jujur saja aku menyesali percakapan yang terjadi melalui telepon malam itu. Sungguh apabila hal tersebut bisa aku batalkan, aku akan batalkan. Percakapan tersebut tidak seharusnya terjadi, dan apabila harus terjadi, tidak semestinya kita lakukan melalui kabel serba audio tersebut.

Seperti layaknya apa yang terjadi hari ini. Ketika kita melakukan percakapan melalui pesan instan. Ah, mau mati rasanya apabila mengingat itu semua. Aku ingin menarik kembali semuanya, andaikata aku bisa.

Sayang, kamu boleh mengatakan aku plin-plan. Dan memang pada faktanya, aku plin-plan. Di satu hari aku ingin lepas dari padamu, namun di hari lain aku hanya ingin berada di sisimu. Klise, plin-plan, gombal, apapun itu, kamu berhak menyebut diriku dengan istilah-istilah tersebut. Namun ketahuilah, apapun yang aku lakukan dan katakan, semuanya didorong oleh berbagai faktor yang saling bertautan, dan salah satunya adalah hasil kontemplasiku dengan diriku sendiri.

Asal tahu saja ya,
Selama beberapa hari kepergianmu ke Pulau Dewata, setiap ada sekecil apapun kesempatan, aku melakukan monolog dengan diriku. Mempertanyakan perihal dirimu, dan kita. Ya, KITA..

Sayang,
Aku lelah melakukan monolog. 
Aku ingin bertemu denganmu, menuntaskan semuanya. Apapun yang masih terlewat diantara kita. Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya lelah berkontemplasi. Aku lelah berpikir, dan belum tentu pemikiranku benar-benar dapat memberikan jawaban yang mendekati level ketepatan pada konteks hubungan kita.

Aku ingin berbicara denganmu, panjang lebar.
Aku tidak perduli apa yang kita bicarakan. Penting atau tidak. Salah atau benar.
Aku hanya ingin berbicara denganmu,
Aku rindu teman bicaraku..

Aku tidak sabar menunggu besok, Sayangku..
Walaupun hanya selang beberapa belas jam dari sekarang. 
Namun sungguh aku tidak sabar..

Aku ingin bertemu, titik




Sept-25-2010
-Chikita Rosemarie





Saturday, September 18, 2010

Untuk Y.K.


1.22. am

Baru saja kukatakan kepadamu, bagaimana kondisiku kini. 

Aku tengah mengalami kesulitan untuk tidur. 
Suatu kondisi yang tidaklah baru untuk aku alami. 
Aku pernah berkali-kali bercerita panjang lebar kepadamu kan? Betapa 'penyakit' gila ini sudah lama aku alami, bertahun-tahun bahkan. Khususnya semenjak aku mulai menjajaki keseriusan perkuliahan. 
Hari demi hari aku lalui tanpa mengenal perbedaan yang jelas antara malam dan pagi. 

Kamu pun sekarang sedang sulit tidur kan? Walaupun secara kondisional agak berbeda dengan apa yang kualami.
Kamu sulit tidur karena tuntutan profesimu. Bukan sulit, namun belum boleh tidur..
Entah sedang berkutat dengan nada-nada apa kau sekarang. Dapat dibayangkan, studio berukuran berapa kali berapa metermu itu pasti sedang riuh rendah dengan berbagai bunyi-bunyian.
Bedanya dengan aku, mungkin bagimu malam tetaplah malam. Pagi tetaplah pagi, dan biarkanlah siang berada di tengah-tengah mereka..

Kalau tidak salah, sebelum aku sibuk berkutat dengan omong kosong ini, aku sempat mengatakan betapa aku merasakan kepalaku terasa berat kan?
Ini salah satu gejala yang seringkali aku alami ketika aku ingin melakukan sesuatu, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Seperti seakan-akan ada banyak fenomena terjadi di dalam kepalaku, dan semua-muanya ingin dikeluarkan, namun kekurangan kapabilitas panca-inderaku justru menghalangi niatan mereka yang membludak.

Salah satu fenomena yang ada di kepalaku adalah pemikiran-pemikiran abstrak mengenai kamu.
Walaupun segala bentuk omong kosong akan tetap terdengar seperti omong kosong, namun percaya tidak percaya, segala bentuk tingkah lakumu yang pernah kutangkap secara sensorik beradu pajang di dalam kepalaku.
Bahkan, gilanya, segala bentuk tingkah laku yang secara sensorik belum tentu kamu bisa, akan, maupun tepikir dilakukan melakukan hal yang sama.
Pemikiran-pemikiran tersebut membuatku gila, asal tahu saja..
Meter-kubik otakku sudah terlalu penuh, apakah perlu ditambah dengan abstraksi-abstraksi tentangmu seperti itu?? 
Bagaimana menurut kamu?

Dan, yang lebih mengesalkan lagi, ketika nampaknya syaraf-syarafku yang berkumpul di otak sudah sedikit membandel, mereka mengirim sinyal-sinyal tolol kepada kelenjar-kelenjar yang ada di sekitar mataku.
Sedikit saja aku berpikir, tak ayal air matapun ikut tertumpah.
Buat apa coba?? 

Apakah aku sedih? Aku tidak tahu..
Apakah itu air mata bahagia?? Lebih tidak tahu lagi..

Bahkan, boleh dibilang, 
Semenjak aku mengenal kamu secara mendalam seperti sekarang, nampaknya aku mulai kehilangan kemampuanku dalam memberikan batasan-batasan yang jelas antara konsepsi-konsepsi yang melibatkan perasaan.

Aku sudah tidak tahu lagi bedanya senang dan sedih..
Semuanya blur..

Bahkan kini, sekarang, aku seakan sudah tidak mengerti lagi bedanya omong kosong dengan yang bukan omong kosong..
Bahkan aku seakan tidak tahu, antitesa dari omong kosong, antonimnya.. 
Apa ya??
Kalau kamu tahu, mohon secepatnya beritahu aku..

Karena semakin aku terjaga, semakin omong kosong yang keluar..
Semakin aku menulis, semakin aku mengeluarkan kata 'omong kosong'..
Padahal, secara linguistik, istilah 'omong kosong' itu sebenarnya agak-agak absurd.
Apa itu omong kosong?
Omong ya omong, kosong ya kosong..

Nah, kamu semakin bingung kan??

Oke, daripada kamu bingung, sayang,
Sebaiknya aku persingkat saja omong kosong yang penuh kekosongan ini.

Karena nampaknya segala omong kosong ini hanya sekedar uraian kata-kata tolol yang berusaha mengisyaratkan betapa aku merindukanmu malam ini..
Malam-malam kemarin.. dan malam-malam setelah ini..



Sept-18-2010,
-Chikita Rosemarie




Tuesday, August 10, 2010

Wadah


aku menumpahkan wadah berisi air hitam..

membuat wadah yang tadinya penuh
menjadi kosong berbercak kelam

aku menumpahkan wadah berisi air hitam..

walau air tersebut membasahi kayu kamarku
dan berpotensi membuatnya menganga

aku menumpahkan wadah berisi kuas..

sehingga berbagai batangan berhamburan
bersama dengan air lunturan serabutnya

aku menumpahkan wadah berisi kuas..

bersama sekelentingan bunyi kayu
yang bertemu dengan permukaan kayu pula

aku menumpahkan wadah berisi air hitam dan kuas..

wadah terjatuh,
air hitam membasahi parquet dan stop kontak,
serta kuas berbagai ukuran berserakan

aku menumpahkan wadah berisi air hitam dan kuas..

dan semerta-merta aku pun tersadar
pikiranku tidak ada di dalam kepalaku
ia ada di sana, mencoba menelaah deru tidurmu

engkau yang telah tertidur di sana
dan aku yang masih terjaga,
bersama wadah, air hitam, dan kuasku

......

ya,
sekali lagi aku menumpahkan wadah berisi air hitam dan kuas..

benar-benar bukan hal paling pintar yang kulakukan hari ini..



(Chikita Rosemarie, 10-Agt-2010)



Monday, July 26, 2010

Aku dan Diriku yang Lain

aku dan diriku yang lain adalah dua sosok yang tidak terpisahkan.
mereka serupa, namun jelas berbeda.
mereka berbeda, namun jelas serupa.
tiada orang yang secara benar dapat mendistingsi keduanya.

aku dan diriku yang lain..

kita hanya sebatas jalinan fungsional yang melengkapi suatu sistem.
sistem baik yang secara materiil maupun spiritual merangkum menjadi satu,
dan kemudian membangun suatu sistem yang lain.

aku dan diriku yang lain..

ya, relasi kita hanya terbatas pada elemen fungsi.
pada suatu elemen sistemik yang sebagaimana jadinya juga terbilang naturalistik,
berkembang secara alamiah dan bukan hasil manufaktur belaka.

aku dan diriku yang lain..

kita seakan saling bertanya, "apakah kamu benar-benar ada?"
namun pada saat yang sama juga berkata, "ya, kamu memang ada."
dengan diikuti tanda titik dan bukan embel-embel koma.

aku dan diriku yang lain..
masih berupa ego, satu sama lain saling tarik-menarik.
kadang ini, kadang itu. kadang banding, kadang sanding.
apapunlah itu, aku dan diriku yang lain tetap saling ada, dan berada.

aku dan diriku yang lain..
aku mencoba menyapanya, "hai, aku."
dan dia menjawab, "hai juga, aku."
aku menghela nafas perlahan, sembari tersenyum.
dan dia tersenyum pula,
suatu senyum simpul yang membuatku mengernyitkan dahi.

dia, si diriku yang lain..
tersenyum simpul seakan berkata,
"kemana saja kau, hah?"

tak terasa sudah hampir 10 menit aku berinteraksi dengannya, si diriku yang lain itu..



(Chikita Rosemarie, July-26-2010)


Tuesday, May 25, 2010

Di Tengah Kebuntuan Saya Menemukan Pencerahan




Mungkin sebagian dari kita, bahkan sebagian besar, tidak suka apabila harus berada pada apa yang disebut sebagai 'kebuntuan'. 

Kita ingin berjalan mulus, 
walaupun dalam perjalanan tersebut tidak dapat dipastikan pula, 
apakah kita berjalan karena kita sadar akan hendak kemana, 
ataukah kita berjalan semata-mata karena kita kita sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Berjalan tak tentu arah, apa bedanya dengan menemui kebuntuan?
Bukankah orang menemui kebuntuan memang cenderung menjadi berjalan tak tentu arah?

Mungkin sebegitu besarnya ego manusia, sehingga kita tidak mau mengakui betapa buntunya kita. Betapa kita sudah kehilangan arah, dan betapa bingungnya kita.

Atau, bisa jadi bukan semata-mata ego manusia itu besar, namun bisa saja memang kita, manusia, cenderung sebegitunya mengagungkan apa yang disebut sebagai 'pencerahan'. 

Sebegitunya kita mengagungkan pencerahan, dan sebegitu takutnya kita menghadapi kebuntuan.

Dan sekali lagi kita melupakan suatu hal yang penting,

Bahwa hanya mereka yang menghadapi kebuntuan lah yang memerlukan pencerahan.



(Chikita Rosemarie, May 25 2010)

Tuesday, December 29, 2009

251209


Kita kadang sulit menentukan eksistensi suatu wacana.
Kita mendistingsi wacana kepada dua dimensi. Yang riil dan yang tidak.
Yang riil berarti nyata, dan yang tidak berarti palsu.
Kepalsuan timbul ketika ia tidak nyata,
dan kenyataan timbul manakala ia tidak palsu.
Kita mempertanyakan kepalsuan dan keaslian suatu kehendak.
Namun sekali-kali kita lupa, bahwa nyata dan tidak itu hanyalah wacana..
Ketika kita mempertanyakan wacana, kita telah meraih wacana baru.
Wacana di dalam wacana.
Pertanyaan di dalam pertanyaan.
Tidak ada suatu hal pun yang dapat mendistingsi itu semua.
Hanya makna, yang statis dan tak bekerja..


(Chikita Rosemarie, Des-25-2009)


Friday, July 31, 2009

Lagu


Ingatkah kita, pada malam itu
Di tengah keremangan malam, ramainya hiruk pikuk kota
Terduduk dalam keheningan, hanya berdua..



Lagu itu mengalun,



Membahana, membangkitkan rasa yang begitu menggebu-gebu
dalam menanggapi gelapnya takdir yang segelap pakaian yang kau kenakan malam itu.

Kau sedikit bertanya mengenai selera musikku yang agak berbeda,
berlawanan dengan usia kita yang terhitung belum seberapa
sekaligus berusaha menyesuaikan selera telinga yang belum terbiasa dengan nada-nada melankolia

Kita berbincang, bak kawan lama
Kepalaku tertunduk pada bahumu,
menghapus keberadaan jarak yang sesungguhnya tak seberapa

Ya, itu kita.
Kita pada malam yang berbeda,
kala yang berbeda pula..

Jauh berbeda dengan sekarang,
kala kini.



Lagu yang sama masih mengalun,



namun irama yang kita buat berbeda..

Air mata yang sama masih jatuh pada tempat yang sama
walau dalam kiasan pemaknaan yang berbeda.



Lagu itu masih mengalun,



aku pun masih meresapi bait tiap baitnya dengan seksama.

ya, api itu..
yang masih menyala di depan kita,
namun dalam situasi yang berbeda.

dulu kita berdua ada di dalamnya,

namun kali ini tidak begitu adanya..

aku ada di dalam sana,

dan kau menolak untuk kembali berada di sana.

Tempat yang sama,

api yang sama..

entah mengecil, entah membesar..

kau sudah tidak ada di sana..

aku yang di sana..

dan kau tidak..

aku,

yang terbakar.

dan kau,

yang mencium bau hangusnya..



dan lagu itu pun masih mengalun..




(Chikita Rosemarie, Jul-31-2009)



*thx to 'the voice', Chaka Khan*


Monday, June 8, 2009

080609

Aku menatap lurus pada hamparan putih
Seakan berharap mereka kan segera terisi

Aku menghamba pada jernihnya alam bawah sadar manusia yang rapuh
Yang berusaha mewakili lirihnya dengan uraian

Jari-jemariku bergerak,
mereka tanpa mata

Hanya bergerak sebagai suatu bentukan simbolik dari kehampaan lain
yang merupakan proses alamiah satu-dua manusia yang bertemu dalam suatu jalinan waktu

Aku berhenti menatap lurus dan mulai juga menggerakkan kepala
sembari berpikir sekali lagi uraian simbolik ini mengena

Jalan pikiranku terhambat oleh batas ruang interaksi antara dimensi yang berbeda
ruang dan waktu,
serta pemaknaan masing-masing individu mengenai itu

Sekali pula pikiranku hendak menghentikan wacana mengenai pemaknaan
suatu hal yang dipercaya sekaligus dicerca
karena ketidakpastian yang menjadikannya hina 

Aku terbata dalam keheningan
menanyakan kapabilitas diri untuk menunggu

Menunggu jawaban yang enggan kujawab
menunggu kepastian yang enggan kuraih

Lelah rasanya meraih kepastian,
ketika kepastian sendiri hanyalah hampa

Ia dan semua-muanya yang tercipta tak lain dan tak bukan hanya sebentukan nosi yang tak bernyawa
ya, lelah aku mencarinya..

di tengah intensitas pencarian yang kadang terlalu melelahkan

yaitu ketika aku menunggu jawaban itu
jawaban yang belum kudapat

sekuritas yang belum telegalkan,
dan lirih yang kian terpaparkan

Ini bukan narasi, jelas bukan..
hanya suatu uraian abstrak mengenai batas sadar dan tidak

ya, ini hanya simbol, bukan makna..
atau simbol, yang tentunya memiliki makna..

Aku tidak tahu,
karena sekali lagi nampaknya jariku tidak punya mata..


(Chikita Rosemarie, June 8 2009)

Thursday, March 26, 2009

25-04-09

aku ingin tidur
namun bayangan itu selalu datang

aku ingin tidur
namun tubuh ini tiada berpihak padaku

aku ingin tubuh ini kembali memihakku
tidur ketika kuingin
bangun ketika kupinta

namun tubuh ini tak lagi milikku seutuhnya
entah tubuh ini hendak mengapa dan aku hendak kemana

yang kutahu hanya aku ingin tidur
tidur dan tidur
karena ketika ku tidur bayangan itu tak lagi datang
entah enggan entah tak bisa

biarlah aku tidur sekarang
biarkanlah mata ini terpejam tanpa perlu bicara

biarkanlah aku pergi bersama angin malam
ke tempat di mana ku bisa bersandar pada gelap

tanpa perlu melihat cahaya
karena cahaya menyiksaku

cahaya memberiku bayangan
dan aku tak berani melihat sosok itu

bayangan itu
sosok itu
sosok 
sosok..

kumohon biarkan aku tidur
biarkan aku bernafas
karena sekarang aku tidak bisa

biarkan aku larut bersama gelap

biarkan aku tidur

aku ingin tidur
aku ingin tidur

aku ingin tidur
ingin tidur
ingin tidur

entah sampai kapan..


00.27 am



Friday, March 13, 2009

Rasa




kadang rasa tidak dapat mengungkap cela.

 

ibaratnya roti yang tak beragi, manis yang tak berisi. 


rasa hanya dapat dirasa, bukan dipijak, apalagi dicari.


rasa itu diam dan menunggu, namun hidup layaknya makhluk yang mencari kenyamanan dirinya.


ia hidup dan memaksa manusia bersyukur atas eksistensinya.


sama halnya dengan manusia, ia pun memiliki ego, terbesar yang pernah ada.


bahkan lebih besar dari ego itu sendiri.


jadi, benarkah kita bersyukur atas rasa?


ataukah sembari berharap rasa itu tiada?




(Chikita Rosemarie, Mar-13-2009)

Monday, February 23, 2009

Inspirasi


'River Watcher' by Shanti Marie




pencarian inspirasi itu bagaikan seorang pengembara yang menunggu ikan di pinggir sungai.


ketika aliran sungai tenang, ia akan duduk diam, menunggu ikan yang dinanti tuk datang jua.


ketika aliran sungai deras, kadang kala ia harus berlari mengejar ikan yang yang berenang liar bersama arus.


ketika ikan tak kunjung datang, kadang kala pula ia harus mencari sosok ikan dalam sosok yang berbeda.


dan ketika benar ikan itu datang, ia harus dapat melihat sosoknya, atau sekali-kali sosok itu pun dapat terlewat.




(Chikita Rosemarie, Feb-23-2009)

Saturday, December 13, 2008

12-Desember-2008




'Starry Night' by Vincent Van Gogh*


masih pada rangkaian hari yang sama kita menyaksikan langit yang berubah menjadi jingga

lucu, karena bahkan kita tak lihat ia berwarna jingga karena tertutup awan kelabu dan dentuman hujan

namun tetap kita percaya bahwa kemutlakan jingga tak kan tergantikan oleh warna lain

dari jingga kembalilah datang temaram, yang entah mendatangi atau kita datangi

kita berdua terduduk dalam lamunan tanpa akhir, kau dan aku


engkau selalu ada dalam tiada dan dalam ada aku takut engkau kan tiada

impian kita bersambut pada keterbatasan makna yang terangkai oleh kata

dan tiada enggan dapat tersampaikan apabila memaknai relasi kita


engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama

dan aku berkata mengenai pertemuan akan belahan jiwa yang diragukan validitasnya

bahwa elemen-elemen yang saling tarik-menarik bukanlah hasil dari kebetulan semata


ketahuilah sayang, aku tak pernah percaya pada konsep pre-destinasi

namun aku selalu berpegang teguh pada takdir yang berkorelasi dengan masa depan yang acak


sekali lagi engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama, kebahagiaanku..

aku terdiam, dan kita saling mengutuk keterbatasan makna yang dapat tersampaikan oleh emosi semata

betapa emosi yang abstrak itu dapat menghasilkan suatu bias tanda tanya yang tanpa akhir

disertai lamunan serta perdebatan tanpa dasar maupun ujung yang memaknai pertemuan kita malam itu


namun ketahuilah kita tidak berbicara mengenai kesedihan

kita berbicara mengenai perihal kejanggalan yang disebabkan oleh relasi affinitas antara kita berdua


kita tidak mengutuk takdir, tidak..

hanya menjembatani kejenakaannya yang kadang tidak sesuai dengan logika

ya, kejenakaan dan bukan kesedihan..

kejanggalan dan bukan perbedaan..

ketakutan dan bukan keengganan..

segala hal yang merepresentasikan sama rasa diantara kita


aku menggenggam tanganmu dan kau menggenggam tanganku

berharap apa yang kita genggam adalah sebongkah impian yang dapat diraih tanpa adanya turbulensi

bahwa kebahagiaan pun dapat bersembunyi dari faktualitas relasi kontradiktif


ide dan materi, iya sayang, kita memang berkutat dengan itu..

ide dan materi beserta hubungan resiprokalnya

serta berbagai probabilita yang dapat tercipta dari padanya..


namun pergolakan tersebut mengundang datangnya gulita

ia yang datang menggantikan temaram, 

disertai dering tanpa akhir yang seharusnya menyudahi pertemuan kita malam itu


kita pun berjalan,

berusaha sejauh-jauhnya dari faktualitas yang harus bergerak menuju tempatnya masing-masing

dalam perjalanan engkau masih mempertanyakan keabsahan jawaban yang kauterima dariku

dan aku hanya tersenyum sembari menyampaikan rahasia yang masih terkunci rapat dalam benakku

sebuah rahasia yang semestinya terjawab apabila kau melihat 97 derajat ke bawah tanpa bias


dan faktualitas itu pun masih ada, menunggu untuk bergerak

engkau menghantar aku sesampai pada batas akhir pertemuan kita

dan sekali-kali aku tak ingin melepas kepergianmu

seakan hanya ada satu pola yang berlaku malam itu, yakni perpisahan


namun sekali kata pula engkau membawaku kembali pada faktualitas yang menunggu untuk kugerakkan

dan keberadaan berbagai probabilita yang berkorelasi dengannya

aku menatap wajahmu yang bersimbah keremangan malam

dan harus kuakui tiada wajah lain yang lebih bersinar dibanding wajahmu saat itu

seakan nyala redup lampu jalan dikalahkan oleh paras wajahmu yang tiada membisu


sekerling mata itu, secercah senyum itu

pergerakan bibir yang menyatakan kata cinta

serta berbagai sentuhan tanpa makna ganda 

menyentuh lendir yang merupakan hasil korelasi antara kepedihan dan penyakit musiman


perpisahan itu diakhiri dengan kecupan

dengan engkau yang masih berdiri di sana

dan aku yang bergerak perlahan bersama faktualitasku

menyingkapi keharusanmu untuk juga berjalan perlahan menuju faktualitasmu sendiri


kau yang masih berdiri di sana

dan aku yang berada di sini

berpisah jalan di persimpangan

namun bergerak perlahan menuju satu konklusi..



(Chikita Rosemarie, Dec-13-2008)




*i'm a HUGE fan of Van Gogh, and the painting somehow represents the feeling very well..