Monday, August 4, 2008

'Perahu' (Joko Pinurbo, 1999)

Puisi ini saya dapatkan ketika sedang googling nama alm Y.B. Mangunwijaya yang merupakan seseorang yang sangat kagumi.
Puisi ini selain membuat saya larut dalam nostalgi akan sosok Romo Mangun* juga menambah satu lagi koleksi puisi mengenai beliau**

Akhir kata, just wanna share this interesting poem by Joko Pinurbo***, so, enjoy :)


PERAHU

: Y.B.M.

Air danau makin meninggi.
Entah sudah berapa desa tenggelam di sini.

Setelah sembahyang dan menghitung cahaya lampu
di kejauhan, pada tengah malam ia memutuskan pergi
ke seberang. Di sana anak-anak sudah tak sabar menunggu
dan ingin segera mendapat oleh-olehnya: buku tulis, pinsil
dan kisah-kisah petualangan yang biasa ia dongengkan
dengan jenaka dan di gedung sekolah darurat yang tentu
tidak tertib kurikulumnya.
“Hati-hati Pak Guru, hujan tampaknya segera turun,”
kata orang-orang kampung yang membantu
mendorong perahunya.
“Tenanglah,” timpalnya sambil tersenyum,
“saya sudah terlatih untuk kalah.”
Meskipun agak gentar sebenarnya, ia meluncur juga
bersama sarung dan capingnya.

Air danau makini meninggi.
Entah sudah berapa rumah tenggelam di sini.

Sebelum sampai di seberang, ia memutuskan mundur
ke tengah. Seluruh kawasan telah dijaga aparat
Dan cukup sulit mendapatkan tempat mendarat.
Sambil menungggu situasi ia tiduran saja di atas perahu
dan, kalau bisa, bermimpi. Menjelang subuh,
perahu mendarat di tujuan. Mereka menyambut girang:
“Pak Guru sudah datang!”
Pak Guru memang sudah datang. Sayang ia tak juga bangun
dan tak akan bangun lagi.
Tapi anak-anak, yang ingin segera mendapat oleh-olehnya,
tak akan mengerti batas antara tidur dan mati.

Beberapa aparat memeriksa tubuhnya yang masih hangat
dan menemukan sesobek surat: “Pak Petugas, tolong sampaikan pinsil dan buku tulis ini kepada anak-anakku
yang pintar dan lucu. Saya mungkin tak sempat lagi bertemu.”
Ada di antara mereka yang berkata:
“Kandas juga ia akhirnya.”

Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah maria.
Seperti hidup yang karam ke dalam doa.

Barangkali ia sendiri sebuah perahu. Yang dimainkan
anak-anak piatu. Yang berani mengarungi mimpi
dan meyusup ke belantara waktu.

(Joko Pinurbo, 1999)



*Begitulah Y.B. Mangunwijaya biasa disapa
**Sebelumnya adalah puisinya Sitor Situmorang yg berjudul "Salamnya Romo Mangunwijaya"
***Karya-karyanya yang lain dapat dilihat di blog : www.jokpin.blogspot.com

Sunday, July 6, 2008

Relasi Kontradiktif

sudah sangat lama sekali nih ga ngeblog..
liburan bukannya nambah ide malah nambah yg lain" (nambah males, berat badan, dll)

anyway, ide buat nulis blog ini datang ga lama setelah gw nulis puisi "Relasi Diam dan Kata", mudah"an menarik buat dibaca, hehehe :)




Saya mendapatkan ide ini ketika saya sedang rindu-rindunya menulis namun di lain pihak juga sedang dalam kondisi stagnasi pikiran temporal yang rupanya agak berkepanjangan (a.k.a ga ada ide). Sehubungan dengan itu, mari kita cek sedikit puisi terakhir saya yang judulnya "Relasi Diam dan Kata". Puisi tersebut adalah salah satu puisi yang saya tulis tanpa mikir sama sekali, dan bahkan ketika saya post di blog dan saya baca-baca ulang, yang terjadi adalah saya sendiri malah berpikir keras untuk meresapi puisi tersebut. (call me stupid, but that's what I trully did!).

Saya sangat tertarik dengan statement terakhir pada puisi saya, yang bunyinya begini :

" kata tidak akan jadi kata tanpa adanya diam
dan diam tidak akan jadi diam tanpa adanya kata."



Nah, akhirnya, di tengah kerasnya saya berpikir, saya menemukan suatu konsep yang saya namakan sebagai "Relasi Kontradiktif". Yaitu sebuah konsep yang menyatakan bahwa sesuatu hal ada karena adanya ketiadaan, di mana hal tersebut lebih menunjuk pada hal-hal yang berbau non-fisik alias bukan benda.

MISALNYA..
Seperti yang tertulis pada puisi saya di atas, kita tidak akan mengenal konsep 'kata' tanpa adanya konsep 'diam', dan konsep 'diam' itu sendiri tidak akan muncul apabila tidak ada konsep 'kata'. Karena 'kata' sendiri telah menjadi indikator dari eksistensi dari 'diam', dan sebaliknya 'diam' pun menjadi indikator bagi eksistensi 'kata'.

Contoh lain, 'Cinta' dan 'Benci' yang kata orang-orang "bedanya hanya setipis kertas." Apa yang kita kenal sebagai 'cinta' yang dianggap sebagai suatu perasaan yang tulus dan indah tidak akan menjadi se'tulus' dan se'indah' seperti yang kita kenal sekarang tanpa adanya perasaan 'benci' yang dianggap tidak indah. Contoh yang sama berlaku pada 'Baik' dan 'Buruk', 'Tidur' dan 'Bangun', dan lain-lainnn..

Sehubungan dengan itu, saya juga jadi teringat akan puisi seorang teman baik saya. Dalam puisinya, ia menuliskan seperti ini :

"tanya adalah jawab.
karena dalam tanya telah ada jawaban.
dan carilah itu didalammu"*

Tidak jauh beda dari contoh-contoh saya yang sebelumnya. Ketika kita bertanya, kita mengharapkan jawaban, di mana hal itu berarti kita mengangkat eksistensi 'jawab' dengan melakukan 'tanya'.


Pada intinya, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dalam hidupnya, manusia mencari keseimbangan, dan keseimbangan tersebut itu nyata. Karena pada realitanya, segala hal non-fisik memiliki relasi kontradiktif seperti yang telah saya sebutkan tadi dan apa yang terlihat berbeda sebenarnya tidak jauh berbeda pula, dan bahkan dapat dikatakan sama saja. Yang penting adalah dalam menyingkapinya, diperlukan adanya Kebesaran Hati (a NOBLE heart), di mana diperlukan untuk menciptakan keseimbangan tersebut.

MISALNYA lagi..
Ketika dalam hidup kita melakukan suatu 'kesalahan' yang harus kita lakukan adalah tetap berbesar hati dan berpikir positif dan mencari 'kebenaran' dari kesalahan yang kita lakukan. Karena ketika kita melakukan suatu 'kesalahan', sebenarnya kita pun telah membuka jalan menuju 'kebenaran'. Namun, patut dicatat bahwa jalan menuju kebenaran tersebut tidak akan terbuka ketika kita tidak memilih untuk menjalaninya, dan ketika kita memilih untuk tidak menjalaninya, kita telah menciptakan ketimpangan dalam hidup kita sendiri.

Sama halnya ketika kita menjalankan 'kebenaran' kita pun tidak boleh terlalu cepat puas dan harus tetap aware akan adanya 'kesalahan' dan harus tetap berbesar hati dengan tidak sombong akan 'kebenaran' yang kita lakukan, karena kita pun masih dapat melakukan kesalahan.

Perlu dicatat juga bahwa kebesaran hati selalu menunjuk berat pada positive thinking dan awareness, yaitu dua hal yang seringkali dianggap berlawanan namun sebenarnya saling mengisi** karena sama-sama dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.


-Akhir kata, mungkin konsep relasi kontradiktif ini sebenarnya tidak jauh beda dari konsep "YinYang" atau konsep "Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi". Tapi, yang penting adalah bahwa dalam hidup, kemungkinan terburuk maupun terbaik memang dapat terjadi, dan kita sebagai manusia lah yang harus memilihnya, and what I'm about to say might sound very cliche, but PRAYER does work in this kind of thing, believe me, it works every time :)



(Chikita Rosemarie, July 6-2008)



*Puisi "Belum Terbaca" Oleh Rae Mandela Nasman,
selengkapnya dapat dilihat di : ceritasianakkancil.blogs.friendster.com/try2bethebest/
** Karena kebanyakan orang selalu menyamakan awareness dengan negative thinking.

Relasi Diam dan Kata

kadang orang dapat berkata
dan kadang tak ada salahnya ia berkata
namun ada kala di mana diamlah yang berkata

diam yang hening tanpa ekspresi
diam yang sepi nyaris tanpa arti
diam yang sekali kali tidak disadari

kata dan diam,
sebuah antonim tanpa nyawa
dua tindak yang semestinya sama saja
dua tindak yang tak kan pernah mencapai niscaya

kata dan diam,
benarkah mereka adalah antonim?

sesungguhnya seringkali orang lupa
bahwa ia dapat berkata dalam diam
dan ia dapat diam sembari berkata

karena kata tidak akan jadi kata tanpa adanya diam
dan diam tidak akan jadi diam tanpa adanya kata


(Chikita Rosemarie, June-25-2008)

'Hujan Bulan Juni' dan Hubungannya dengan 'Climate Change'

it's proven that i'm not completely a 'manusia dr ufuk timur', mengingat gw dpt ilham buat bikin tulisan ini sore" menuju malem dan bukan subuh sperti biasanya.. hehehe..


pemikiran ini awalnya timbul tadi siang ketika saya sedang menyetir sendirian di jalan tol dengan diiringi rintikan hujan yang agak deras..

saya teringat sama teman saya* dan obrolan kita mengenai salah satu puisi favorit kita 'Hujan Bulan Juni', Sapardi Djoko Damono. Puisi tsb adalah sbb :

"tak ada yang lebih tabah


dari hujan bulan Juni


dirahasiakannya rintik rindunya


kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak


dari hujan bulan Juni


dihapusnya jejak-jejak kakinya


yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif


dari hujan bulan Juni


dibiarkannya yang tak terucapkan


diserap akar pohon bunga itu"
(Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono)


Obrolan kita pada intinya membahas 'kelucuan' dari realita yang ada apabila dikomparasikan dengan esensi dari tata bahasa yang dipergunakan dalam puisi tersebut.

We both had agreed before that this poem is actually an analogical writing, di mana Sapardi (dalam pemamahan kita) menggambarkan situasi kesedihan seseorang dalam suatu peristiwa 'hujan' dan implikasi dari 'hujan' tersebut. Selain itu, kita menangkap adanya suatu ironi, yaitu bahwa 'hujan' tersebut terjadi pada bulan Juni yang merupakan musim panas**, dan kedua hal itulah yang membuat kita suka banget sama puisi tersebut..

Nah, yang menurut kita 'lucu' itu, adalah fakta bahwa sekarang bulan Juni, dan akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang bahkan dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok 'hujan deras'.
Sehubungan dengan itu, seperti yang kita semua ketahui, climate change adalah salah satu isu paling santer akhir-akhir ini, di mana banyak sekali aspek-aspek kehidupan yang berubah dikarenakan oleh hal tersebut. Mulai dari aspek sosial, politik, ekonomi, agrikultur, daannn lainnn lainnnnn.. Peristiwa perubahan cuaca, di mana terjadi 'pergeseran perilaku hujan' tersebut pun merupakan 'hasil' dari climate change.

Nahhhh, this is the 'funniest' part..
Karena adanya climate change itu juga, esensi yang saya dapat dari puisi tersebut pun jadi berubah.. Saya jadi melihat esensi dari puisi tersebut dari 'kacamata' yang lain, dan kira-kira begini konsepsinya (siap-siap bolak-balik nge-roll page ini ke atas)..

1. Hujan yang turun pada bulan Juni itu adalah 'Hujan Bulan Juni' bagi kita semua..
Seperti yang tadi saya katakan, peristiwa 'Hujan Bulan Juni' itu adalah gambaran analogis dari suatu bentuk 'kesedihan'. Dalam hal ini, 'kesedihan' dapat kita artikan sebagai 'duka' dan 'masalah', dan hujan yang turun pada bulan Juni yang merupakan pertanda dari adanya climate change itu seharusnya menjadi 'kesedihan', 'duka', dan 'masalah' kita bersama, alias COMMON ISSUE, di mana bentuk penanggulangan dan perbaikannya dilakukan bersama dalam suatu skala solidaritas sosial dan social awareness yang tinggi, baik lokal maupun internasional mengingat 'hujan bulan juni' tersebut turun di atas kita semua dan menimbulkan implikasi-implikasi yang terkait pada 'ruang publik'.

2. Dalam menanggulangi dan memperbaiki efek 'Hujan Bulan Juni' diperlukan Ketabahan, Kebijakan, dan Kearifan..
Seperti yang disebutkan Sapardi dalam puisinya, 'hujan bulan juni' itu tabah, bijak, dan arif. Dalam hal ini, dalam melalui 'hujan bulan juni', kita sebagai suatu social community harus dapat bersikap sesuai dengan tiga hal tersebut;
(1) Tabah dan berbesar hati menghadapi permasalahan-permasalahan baru yang diakibatkan oleh adanya climate change,
(2) Bijak dalam perbuatan, sesuai dengan peranan-peranannya masing-masing dalam masyarakat, misalnya para pemegang 'peran politik' merumuskan dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan (policies) yang efisien dan efektif, dan para pemegang 'peran publik' dapat baik mengeluarkan input maupun membantu mensukseskan implementasinya secara bijak pula,
(3) Arif, di mana segala hal dapat dilakukan dengan tulus dan demi kebesar-besarnya kepentingan publik, baik di masa kini maupun mendatang.


Okay, call me cliche, tapi cukup lumrah apabila saya katakan demikian. Karena ketika seiring dengan turunnya 'hujan bulan juni' kita dapat mempertahankan ketiga hal tersebut, kita telah membuktikan that we can make it through the 'unusual rain' yang mengharuskan kita 'merahasiakan rintik rindu', 'menghapuskan jejak-jejak kaki', dan 'membiarkannya tak terucap' yang merupakan bentuk analogi dari merubah economical expenses, pola hidup, pola pikir, dan kompensasi-kompensasi pada ruang publik lainnya khususnya sehubungan dengan aspek-aspek environmentalisme.


-Konsepsi tersebut selain mengandung pesan moral, mungkin juga membuktikan bahwa baik tempe mendoan dan tempe goreng asalnya sama-sama dari 'tempe'..*LOL!*

..................................................

Oh iya, akhir kata, ini semua idenya Sapardi yang saya "obrak-abrik", mudah-mudahan tidak membuat dongkol para sastrawan dan para pencinta Sapardi di luar sana, hehehe :)



(Chikita Rosemarie, June-10-2008)


*inisial MR
**berdasarkan pergerakan angin muson ;)