Monday, June 29, 2009

Me and My Subjective Meaning


Salah satu frase yang sering saya ucapkan, baik dalam ranah akademis maupun kasual, adalah 'pemaknaan subyektif' (subjective meaning). Tidak hanya saya ucapkan, interpretasi serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi isu yang kerap kali saya pertanyakan. Mungkin hal ini salah satunya diakibatkan oleh kekaguman saya terhadap pemikiran Weber. Namun, di luar itu semua, kadangkala saya pun menyadari betapa pemahaman minimal saya mengenai konsep pemaknaan subyektif ini telah sedikit banyak merubah sudut pandang saya dalam menanggapi hidup. 

Saya kesal, dan ingin marah rasanya ketika saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan sehubungan dengan interaksi sosial saya, baik dengan individu maupun dengan kelompok lain. Bahkan ada kalanya saya merasa sangat amat perlu menggeleng-gelengkan kepala dengan cukup keras untuk membuat konsep tersebut keluar dari kepala saya sambil mengatakan, "HELLO!! I just want to be an 'Ego'!!", sembari memaki pengetahuan saya yang tentunya terbilang masih amat sangat sedikit mengenai konsep tersebut. 

Saya sebenarnya yakin, dengan ada tidaknya empirisisme terhadap konsep tersebut, tiap-tiap individu pastinya secara alamiah menyadari adanya keberadaan pemaknaan subyektif serta keberadaan bentukan kausal dari hal itu. Namun, yang sangat saya sayangkan adalah keberadaan konsep tersebut di dalam kepala saya mempertegas realitanya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan, saya merasa 'dipaksa' untuk menjadi dewasa, 'dipaksa' untuk berpikir secara mendalam ketika saya hanya ingin menjadi seorang 'ego', di mana secara sederhana diartikan sebagai rasionalitas kesadaran diri saya sendiri. Saya hanya ingin berpikir simpel, self-centered, tanpa harus berpikir keras menganalisa mengenai jalan pemikiran individu-individu lain beserta bentukan kausalnya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, dan saya harus hidup sembari dihantui konsep tersebut sepanjang sisa hidup saya.

Dari hasil gerundelan saya di atas, tentunya tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa konsep 'pemaknaan subyektif' telah sedikit banyak mengubah hidup saya. Bukan saya yang dapat menilai apakah perubahan itu berjalan lebih ke arah positif atau negatif. Namun, satu hal yang pasti, yang sebenarnya sedikit banyak membuat saya ingin tertawa satir, adalah bahwa segala hal yang barusan saya tulis dan keluhkan sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah pemaknaan subyektif saya mengenai konsep 'pemaknaan subyektif' itu sendiri. 

Ironis?? sekali lagi, bukan saya yang dapat menilai.. :)


(Chikita Rosemarie, June-29-2009)


Monday, June 8, 2009

080609

Aku menatap lurus pada hamparan putih
Seakan berharap mereka kan segera terisi

Aku menghamba pada jernihnya alam bawah sadar manusia yang rapuh
Yang berusaha mewakili lirihnya dengan uraian

Jari-jemariku bergerak,
mereka tanpa mata

Hanya bergerak sebagai suatu bentukan simbolik dari kehampaan lain
yang merupakan proses alamiah satu-dua manusia yang bertemu dalam suatu jalinan waktu

Aku berhenti menatap lurus dan mulai juga menggerakkan kepala
sembari berpikir sekali lagi uraian simbolik ini mengena

Jalan pikiranku terhambat oleh batas ruang interaksi antara dimensi yang berbeda
ruang dan waktu,
serta pemaknaan masing-masing individu mengenai itu

Sekali pula pikiranku hendak menghentikan wacana mengenai pemaknaan
suatu hal yang dipercaya sekaligus dicerca
karena ketidakpastian yang menjadikannya hina 

Aku terbata dalam keheningan
menanyakan kapabilitas diri untuk menunggu

Menunggu jawaban yang enggan kujawab
menunggu kepastian yang enggan kuraih

Lelah rasanya meraih kepastian,
ketika kepastian sendiri hanyalah hampa

Ia dan semua-muanya yang tercipta tak lain dan tak bukan hanya sebentukan nosi yang tak bernyawa
ya, lelah aku mencarinya..

di tengah intensitas pencarian yang kadang terlalu melelahkan

yaitu ketika aku menunggu jawaban itu
jawaban yang belum kudapat

sekuritas yang belum telegalkan,
dan lirih yang kian terpaparkan

Ini bukan narasi, jelas bukan..
hanya suatu uraian abstrak mengenai batas sadar dan tidak

ya, ini hanya simbol, bukan makna..
atau simbol, yang tentunya memiliki makna..

Aku tidak tahu,
karena sekali lagi nampaknya jariku tidak punya mata..


(Chikita Rosemarie, June 8 2009)

Wednesday, May 20, 2009

Kontemplasi


"If it wasn't for Rama and Allah, I'd still have a mother."
(Jamal Malik - 'Slumdog Millionaire)


-It might not be your favourite scene from that amazing movie, but it's definitely mine :). 

Aneh memang, di pagi menjelang siang hari yang sangat panas, di tengah salah satu keseharian yang paling saya benci (a.k.a menyetir), saya teringat adegan tersebut. Bukan karena teriknya sinar matahari ataupun ramainya arus lalu lintas hari Selasa, mungkin memang saya sebagai seorang individu memang sedang rindu berkontemplasi. 

Kontemplasi, 
mungkin bukan salah satu kata yang sering dilontarkan secara umum, namun bagi saya, amat dalam maknanya. Karena patut disadari, kita, manusia, melakukannya. Secara sadar maupun tidak, dalam kepahaman akan makna dibaliknya atau tidak. 

Seperti Jamal Malik, the slumdog millionaire, misalnya. Ia mengucapkan kalimat sinis tersebut berdasarkan pengalamannya kehilangan sang Ibu akibat dari konflik antar-agama yang kala itu terjadi di India. Ucapan itu tak lain dan tak bukan pun merupakan salah satu hasil kontemplasinya. Bukan berarti saya mengatakan bahwa hasil kontemplasi selalu bersifat sinis, namun memang patut diakui, semakin kita bertanya-tanya, dan semakin kita mencapai suatu bentuk pengetahuan tertentu-baik faktual maupun experiental-, semakin sinis pula kita memandang segala sesuatu, khususnya apabila berkenaan dengan pengetahuan itu sendiri.

Kita pun patut diakui, juga demikian. For better or for worse, we contemplate..
Bukan karena semata-mata manusia memiliki akal budi, namun karena memang kita memiliki kebutuhan untuk itu. Manusia butuh berkontemplasi. 

Sehubungan dengan itu, saya jadi teringat pada konsep Aristoteles mengenai 'zoon politicon', yang biasanya diartikan secara serampangan bahwa manusia adalah 'makhluk sosial'. Walaupun konsepsi 'manusia adalah makhluk sosial' itu benar, namun makna dari 'zoon politicoon' bukanlah itu. Konsepsi 'zoon politicoon' memiliki pemaknaan bahwa tiap manusia merupakan suatu bagian dari bentuk pemerintahan terkecil, yang dalam hal ini adalah keluarga. Keluarga, sebagai suatu bentuk pemerintahan terkecil memiliki division of power, peraturan, nilai-nilai, serta suatu tujuan bersama, yang juga merupakan salah satu bagian dari suatu implementasi politik yang lebih besar, yang dalam hal ini salah satu contohnya adalah negara maupun yang lebih besar lagi, dunia internasional.

Bagian yang lebih kecil dari keluarga terdapat dalam ranah individu. Individu, dengan kemampuan untuk mengembangkan dirinya, salah satunya adalah dengan melalui proses kontemplasi tersebut. Kontemplasi tak lain dan tak bukan adalah salah satu bagian dari suatu proses yang lebih besar, yakni proses identifikasi. Kedua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik yang pada akhirnya menghasilkan identitas seseorang. Manusia mengidentifikasi dirinya melalui proses kontemplasi yang ia lakukan, sebaliknya, proses identifikasi sosial terjadi sebagai hasil pengakuan publik akan suatu hasil kontemplasi individu. Dari situlah suatu bentukan pemahaman subyektif terbentuk.

Misalnya saya pribadi. Saya menyebut diri saya sebagai seorang 'Katolik' bukan semata-mata karena saya terlahir dalam keluarga Katolik dan sejak bayi telah dibabtis secara Katolik. Saya menyatakan bahwa saya adalah seorang Katolik, karena saya memiliki pemahaman subyektif mengenai kekatolikan saya yang dibentuk dari proses sosialisasi yang saya alami sejak kecil, pengakuan dari orang-orang di sekitar saya yang menyatakan bahwa saya adalah seorang Katolik, serta hasil kontemplasi saya yang menghasilkan keyakinan serta pengetahuan bahwa saya merupakan bagian dari suatu institusi agama Katolik, baik dalam ranah keluarga, maupun dalam ranah yang lebih luas, yang dalam hal ini adalah Hierarki Gereja Katolik itu sendiri. 

Hasil kontemplasi tersebut didapat melalui apa yang saya baca, apa yang saya lihat, apa yang saya dapat di sekolah, dalam pergaulan, dalam relasi dengan keluarga, dan segala bentuk pengetahuan faktual maupun experiental lainnya. Suatu proses yang panjang itu terangkum dalam suatu proses identifikasi, yang akan menentukan 'orang Katolik yang seperti apakah saya ini'. Proses tersebut terjadi bukan hanya pada religiusitas/agama saja, namun juga pada etnisitas, kewarganegaraan, profesi, program studi yang kita ambil ketika kuliah, dan lain-lain. 

Akhir kata,
Pada substansi yang lebih simpel, sebenarnya kita dapat melihat hal-hal semacam ini pada berbagai hal di sekitar kita. Salah satunya adalah quiz-quiz facebook yang bertajuk 'Mahasiswa seperti apakah kamu?', 'Orang Indonesia macam apakah kamu?', dan aplikasi-aplikasi adiktif  serupa. Saya tahu itu terdengar konyol, namun sedikit banyak itu juga merupakan suatu bentuk kontemplasi dan identifikasi lho.. ;)



(Chikita Rosemarie, May-20-2009)



Tuesday, April 21, 2009

21 April 130 Tahun yang lalu..



"Lewat Malam sampailah Siang
Lewat Badai sampailah Reda
Lewat Perang sampailah Menang
Lewat Duka sampailah Suka."
-R.A.Kartini-
('Kartini, Sebuah Biografi' - Sitisoemandari)


*Selamat Hari Kartini*

nb: mohon maaf belum ada artikelnya, sedang ada obligasi lain jadinya kegiatan tulis-menulis vakum dulu :)