Saturday, September 25, 2010

Untuk Y.K. II


02.17 am

Sekali lagi aku duduk menatap hamparan putih ini. Terpaku begitu saja. Hanya karena alasan klise "aku tidak bisa tidur". Namun ketahuilah, seperti yang pernah aku katakan di malam kita berargumen panas kemarin. Aku tidak bisa hidup tanpa menulis. Apapun itu yang aku tulis. Mau bait-bait puisi, celoteh acak, maupun sesurat omong kosong yang secara tidak langsung aku tujukan kepadamu.

Namun aku tidak benar-benar sendirian malam ini. di sebelahku terdampar segelas Jagermeifer yang diam-diam aku bawa dari ruang makan selepas aku pulang dari berpergian, melepas penat bersama teman-temanku. 

Ya, aku memang meminum beberapa gelas minuman dengan kadar alkohol tertentu sepanjang hari ini. Tadi siang, Sopi, semacam minuman hasil fermentasi beras khas daerah Indonesia Timur yang dibawa teman kampusku, dan tadi malam, segelas Cosmopolitan, segar dan beraroma jeruk, selayaknya minuman yang selalu diasosiasikan dengan kaum perempuan itu. 

Selanjutnya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, segelas Jagermeifer, lengkap dengan batu-batu es yang sebenarnya berat jenisnya melebihi cairan beralkohol tersebut. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan asumsi-asumsi seperti, "Oh, dia terlalu banyak minum hari ini." karena aku yakin bahwa kadar H2O masih melebihi kadar alkohol hasil fermentasi yang memasuki tubuhku sepanjang hari ini.

Ah Sayang,
apa boleh dikata, jujur saja aku menyesali percakapan yang terjadi melalui telepon malam itu. Sungguh apabila hal tersebut bisa aku batalkan, aku akan batalkan. Percakapan tersebut tidak seharusnya terjadi, dan apabila harus terjadi, tidak semestinya kita lakukan melalui kabel serba audio tersebut.

Seperti layaknya apa yang terjadi hari ini. Ketika kita melakukan percakapan melalui pesan instan. Ah, mau mati rasanya apabila mengingat itu semua. Aku ingin menarik kembali semuanya, andaikata aku bisa.

Sayang, kamu boleh mengatakan aku plin-plan. Dan memang pada faktanya, aku plin-plan. Di satu hari aku ingin lepas dari padamu, namun di hari lain aku hanya ingin berada di sisimu. Klise, plin-plan, gombal, apapun itu, kamu berhak menyebut diriku dengan istilah-istilah tersebut. Namun ketahuilah, apapun yang aku lakukan dan katakan, semuanya didorong oleh berbagai faktor yang saling bertautan, dan salah satunya adalah hasil kontemplasiku dengan diriku sendiri.

Asal tahu saja ya,
Selama beberapa hari kepergianmu ke Pulau Dewata, setiap ada sekecil apapun kesempatan, aku melakukan monolog dengan diriku. Mempertanyakan perihal dirimu, dan kita. Ya, KITA..

Sayang,
Aku lelah melakukan monolog. 
Aku ingin bertemu denganmu, menuntaskan semuanya. Apapun yang masih terlewat diantara kita. Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya lelah berkontemplasi. Aku lelah berpikir, dan belum tentu pemikiranku benar-benar dapat memberikan jawaban yang mendekati level ketepatan pada konteks hubungan kita.

Aku ingin berbicara denganmu, panjang lebar.
Aku tidak perduli apa yang kita bicarakan. Penting atau tidak. Salah atau benar.
Aku hanya ingin berbicara denganmu,
Aku rindu teman bicaraku..

Aku tidak sabar menunggu besok, Sayangku..
Walaupun hanya selang beberapa belas jam dari sekarang. 
Namun sungguh aku tidak sabar..

Aku ingin bertemu, titik




Sept-25-2010
-Chikita Rosemarie





Sunday, September 19, 2010

Curahan Hati Dini Hari


Ini sudah hampir jam 4 dinihari, namun saya belum benar" merasa ingin tidur. Oh, atau mungkin sebaiknya saya sedikit meralat, setengah jam yang lalu sebenarnya saya sudah memutuskan untuk menidurkan diri. Saya sudah mencuci muka, menggosok gigi, dan terbaring manis di atas tempat tidur saya. Namun, seperti yang secara umum kita ketahui, tidak semua hal dapat terjadi sesuai dengan apa yang kita kehendaki, walau dalam hal ini, pengetahuan umum tersebut terverifikasi oleh suatu kejadian yang sedikit banyak kurang begitu penting.

Jadi, kira" setengah jam yang lalu itu, saya sudah terbaring, mencoba memejamkan mata sembari mengingat-ingat obrolan yang baru saja saya lalui dengan kekasih saya, yang rupanya agak prihatin dengan pola tidur dan kesehatan saya. Sembari mencoba merangkai kembali patah demi patah nasehat yang ia berikan (yang sebagian besar dipatahkan dengan argumen" sebyektif saya), saya berusaha memejamkan mata, hendak menyusul kepergian kekasih saya ke alam tidur setengah jam yang lalu, bertepatan dengan usainya obrolan kita.

Di tengah keremangan mata yang setengah terpejam tersebut, saya menemukan sesuatu yang mengganggu. 

Ada suara, sesekali samar, sesekali kencang menderu,

"nguuuuuuuungggggg... nguuuuuuuuunnnnnnngggggg...", begitu ia bergaung di tengah kesunyian subuh yang semestinya syahdu. 

Serta merta saya menyadari apa gerangan sumber dari suara mengganggu tersebut, LALAT!

Ya, di kamar saya yang semestinya sunyi senyap itu ada seekor lalat. Dengan ukuran yang termasuk besar, di atas rata" ukuran lalat pada umumnya, dan dengan suara gaung yang benar-benar mengganggu. Ditambah lagi, lalat bodoh itu berulang kali menabrak dinding lah, lemari lah, AC lah, membuat bunyi 'nguuunggg nguuuuunnggg' yang sudah saya klasifikasikan sebagai 'mengganggu' itu semakin menjadi-jadi.

Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan makhluk hidup yang diklasifikasikan ke dalam spesies serangga. Namun harus saya akui, keberadaan si lalat ini benar-benar membuat saya menjadi agak" 'gila'. Gila dalam artian senewen sendiri, ingin misah-misuh, dan selanjutnya, TIDAK BISA TIDUR.

Bahkan sekarang saya menjadi sedikit paranoid. Saya membiarkan pintu kamar saya terbuka, supaya si lalat yang sedang (bahkan sampai sekarang) asik terbang" ini bisa mencari 'jalur alternatif', yakni keluar dr kamar saya. Dan asal tahu saja, kelakuan paranoid saya juga memiliki bumerangnya tersendiri. Anjing saya, J.lo menjadi masuk ke dalam kamar saya, dan membuat sedikit kehebohan tersendiri di dalam kamar. Ya Tuhan, saya menjadi semakin senewen, dan sekarang sudah hampir setengah 5. 

Oh tidak...



(Chikita Rosemarie, 19-Sept-2010)



Saturday, September 18, 2010

Untuk Y.K.


1.22. am

Baru saja kukatakan kepadamu, bagaimana kondisiku kini. 

Aku tengah mengalami kesulitan untuk tidur. 
Suatu kondisi yang tidaklah baru untuk aku alami. 
Aku pernah berkali-kali bercerita panjang lebar kepadamu kan? Betapa 'penyakit' gila ini sudah lama aku alami, bertahun-tahun bahkan. Khususnya semenjak aku mulai menjajaki keseriusan perkuliahan. 
Hari demi hari aku lalui tanpa mengenal perbedaan yang jelas antara malam dan pagi. 

Kamu pun sekarang sedang sulit tidur kan? Walaupun secara kondisional agak berbeda dengan apa yang kualami.
Kamu sulit tidur karena tuntutan profesimu. Bukan sulit, namun belum boleh tidur..
Entah sedang berkutat dengan nada-nada apa kau sekarang. Dapat dibayangkan, studio berukuran berapa kali berapa metermu itu pasti sedang riuh rendah dengan berbagai bunyi-bunyian.
Bedanya dengan aku, mungkin bagimu malam tetaplah malam. Pagi tetaplah pagi, dan biarkanlah siang berada di tengah-tengah mereka..

Kalau tidak salah, sebelum aku sibuk berkutat dengan omong kosong ini, aku sempat mengatakan betapa aku merasakan kepalaku terasa berat kan?
Ini salah satu gejala yang seringkali aku alami ketika aku ingin melakukan sesuatu, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Seperti seakan-akan ada banyak fenomena terjadi di dalam kepalaku, dan semua-muanya ingin dikeluarkan, namun kekurangan kapabilitas panca-inderaku justru menghalangi niatan mereka yang membludak.

Salah satu fenomena yang ada di kepalaku adalah pemikiran-pemikiran abstrak mengenai kamu.
Walaupun segala bentuk omong kosong akan tetap terdengar seperti omong kosong, namun percaya tidak percaya, segala bentuk tingkah lakumu yang pernah kutangkap secara sensorik beradu pajang di dalam kepalaku.
Bahkan, gilanya, segala bentuk tingkah laku yang secara sensorik belum tentu kamu bisa, akan, maupun tepikir dilakukan melakukan hal yang sama.
Pemikiran-pemikiran tersebut membuatku gila, asal tahu saja..
Meter-kubik otakku sudah terlalu penuh, apakah perlu ditambah dengan abstraksi-abstraksi tentangmu seperti itu?? 
Bagaimana menurut kamu?

Dan, yang lebih mengesalkan lagi, ketika nampaknya syaraf-syarafku yang berkumpul di otak sudah sedikit membandel, mereka mengirim sinyal-sinyal tolol kepada kelenjar-kelenjar yang ada di sekitar mataku.
Sedikit saja aku berpikir, tak ayal air matapun ikut tertumpah.
Buat apa coba?? 

Apakah aku sedih? Aku tidak tahu..
Apakah itu air mata bahagia?? Lebih tidak tahu lagi..

Bahkan, boleh dibilang, 
Semenjak aku mengenal kamu secara mendalam seperti sekarang, nampaknya aku mulai kehilangan kemampuanku dalam memberikan batasan-batasan yang jelas antara konsepsi-konsepsi yang melibatkan perasaan.

Aku sudah tidak tahu lagi bedanya senang dan sedih..
Semuanya blur..

Bahkan kini, sekarang, aku seakan sudah tidak mengerti lagi bedanya omong kosong dengan yang bukan omong kosong..
Bahkan aku seakan tidak tahu, antitesa dari omong kosong, antonimnya.. 
Apa ya??
Kalau kamu tahu, mohon secepatnya beritahu aku..

Karena semakin aku terjaga, semakin omong kosong yang keluar..
Semakin aku menulis, semakin aku mengeluarkan kata 'omong kosong'..
Padahal, secara linguistik, istilah 'omong kosong' itu sebenarnya agak-agak absurd.
Apa itu omong kosong?
Omong ya omong, kosong ya kosong..

Nah, kamu semakin bingung kan??

Oke, daripada kamu bingung, sayang,
Sebaiknya aku persingkat saja omong kosong yang penuh kekosongan ini.

Karena nampaknya segala omong kosong ini hanya sekedar uraian kata-kata tolol yang berusaha mengisyaratkan betapa aku merindukanmu malam ini..
Malam-malam kemarin.. dan malam-malam setelah ini..



Sept-18-2010,
-Chikita Rosemarie